BANDARLAMPUNG – Di tengah derasnya arus informasi digital yang serbacepat dan mudah terlupakan, Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung memilih jalur berbeda. Tak sekadar memproduksi berita harian, IJP resmi meluncurkan Koran Edisi Khusus dan Buku Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Senin (2/3/2026).
Langkah ini bukan hanya seremoni penerbitan, tetapi penegasan peran pers sebagai penjaga ingatan publik—sekaligus mitra kritis pemerintah yang tetap konstruktif.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, menyebut karya tersebut lahir dari idealisme anggota. Tujuannya sederhana namun penting: memastikan masyarakat mendapatkan gambaran utuh tentang apa saja yang telah dikerjakan dalam satu tahun pertama kepemimpinan.
“Kami ingin publik punya akses informasi yang utuh dan bisa menguji janji politik secara objektif. Ini bagian dari upaya merawat akal sehat publik,” ujar Abung.
Lewat buku dan koran edisi khusus, capaian pembangunan dikemas lebih sistematis dan mudah ditelusuri. Tidak berhenti pada laporan permukaan, IJP mencoba membedah arah kebijakan dan fondasi yang sedang dibangun pemerintah daerah.
Beberapa sorotan utama antara lain:
Penguatan ekonomi berbasis desa sebagai pusat pertumbuhan baru.
Transformasi infrastruktur, termasuk peralihan jalan dari aspal ke rigid beton yang lebih tahan lama.
Investasi pada Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai bekal jangka panjang.
Meski menjalin sinergi dengan Pemprov Lampung, Abung menegaskan independensi tetap menjadi pijakan. Kritik, katanya, harus tajam namun beretika dan berbasis data—bukan sekadar komentar tanpa substansi.
Gubernur Mirza menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, buku dan koran edisi khusus ini menjadi ruang refleksi sekaligus bahan evaluasi atas amanah yang diberikan masyarakat.
“Apa yang dilakukan teman-teman IJP membantu kami melihat kembali apa yang sudah dikerjakan dan apa yang perlu diperbaiki. Masyarakat memang berhak tahu,” ujarnya.
Lebih dari sekadar dokumentasi, langkah IJP mengandung pesan kuat:
Literasi melawan lupa. Buku memberi daya tahan informasi lebih lama dibanding arus berita digital.
Transparansi yang mudah dipahami. Data pembangunan dikemas ringkas dan komunikatif.
Posisi tawar pers yang kuat. Wartawan tak hanya menjadi pelapor, tetapi juga analis yang mampu membaca arah pembangunan.
Di tengah dinamika politik dan pembangunan, IJP menunjukkan bahwa karya jurnalistik bukan sekadar produksi berita, melainkan juga investasi intelektual untuk masa depan daerah.











